Pages

Rabu, 11 November 2009

Sekelumit tentang makhluk ciptaan Dewa berusia 35 tahun penghuni areal PT.TWCB yang unik berbentuk ulat gatal yang bernama : ASONGAN

Adalah nama yang unik, perilakunya suka mengejar turis terkadang membuat geleng geleng wisatawan berakibat gatal pariwisata, perubahan metode global bisnis yang cepat tak di hiraukanya malah dengan asyik canda ria di lakoniya mata manusia yang sombong mengatakan bentuk usaha yang rendah apakah dia sebagai sebab ataupun akibat obyek pariwisata yang gatal sampai saat ini, perdebatan dan ego menyalahkan hanya akan menambah indah bingkai figura kerdil yang di tonton masyarakat dunia dengan geli, tidak memahami perilaku dan persepsi rendah bahkan menjadi kegiatan yang memalukan menjadikan vonis kegiatan yang tak ada legalitas formal lebih dari 30 tahun, semua terjebak pada persepsi yang keliru, asongan adalah bentuk kegiatan usaha Quadran pribadi merdeka, sudut pandang Zona karyawan scala unit hanya memunculkan persepsi rendah lebih rendah daripada status karyawan perusahaan, asongan adalah pribadi unik walaupun hanyalah sebuah kegiatan usaha mencari penghasilan yang bersifat sederhana dan primitif dengan manajement Bakul Ndeso tetapi sistim kerjanya seperti minoritas kongklomerat yang mampu mengendalikan ekonomi negara dengan banyaknya usaha yang di miliki, kemerdekaan pribadinya sama dengan posisi Direktur utama dalam perusahaan bahkan lebih, asongan sebagian besar mampu membangun sub unit usaha walau tetap di tanganinya sendiri sebagai pedagang pecinan, pasar malam, pedagang lapak, di rumah terbiasa usaha pertanian, sebagian peternak, tukang pijat urut di kampung bahkan tokoh Ulama dan Pegawai Negeri dan lain lain...”Terkadang dengan gampang berpindah Quadran buruh proyek bangunan dengan jabatan Direktur bagian mengaduk semen....”Ketika bosan kembali menjadi asongan.....”Walau sepertinya rendahan dalam kondisi tertentu di tengah deras keringat dan bau kecut keringat Londo(turis) setelah mengejar Turis Asongan berani konfrensi Pers karena gampangnya mengakses Media kalau akan ada penataan ....”Ikan yang tak tertangkap air keruh duluan....” Keberanian menolak bentuk penataan oleh pihak pihak tertentu, karena Asongan tidak mengenal istilah scores kerja, SP3, apalagi PHK...Takut secara struktural seperti dalam perusahaan tidak ada dalam kamus kehidupanya karena asongan adalah BOS untuk dirinya sendiri dengan gampang mengatur dirinya sendiri, mau kerja ataupun libur pun tak ada yang mampu mengaturnya, otoritasnya melebihi seorang Presiden karena hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri, apalagi asongan kaum perempuan sebagai pedagang mayoritas areal PT>TWCB secara psicology akan lebih berani karena mempunyai usaha tetap dari para suami dari berbagai pekerjaan, Quadran karyawan tidak tepat mengelola pribadi asongan, karena sudut pandang dan kinerjanya berbeda, prinsip kerja yang bertolak belakang dengan Quadran karyawan, pengajuan untuk libur cuti dari aktivitas mengasong kepada teman komunitasnya justru untuk bekerja “Ada yang cuti kerja ke Malaysia, Buruh pabrik di kota, malah ada yang cuti jadi Kepala Desa.” Pekerjaan yang menjadi hoby Quadran karyawan bisa jadi akan menjadi sikap yang paling di bencinya, Quadran karyawan walau secara lahiriah fisik lebih sejahtera secara ekonomi tetapi dalam sudut luas pribadi merdeka asongan menempati sudut ruang yang amat kecil sudut luas adalah kebebasan pribadi yang tak tertandingi, solusi mengkaryakan memasuki dunia quadran karyawan seperti tukang sapu, satgas pedagang, atau bentuk pekerjaan yang lain bisa menjadi solusi ketika wisatawan sepi, karena asongan sudah terjebak candu metodologi asongan yang nikmat karena penghasilan seperti memasang umpan Dadu kalau pas untung dalam satu jam mampu menghasilkan gaji 2 bulan pekerja rendah karyawan PT>TWCB, target jumlah wisatawan yang banyak menghasilkan Quadran karyawan mantan asongan menjadi tersiksa sakauw candu asong luar biasa......” Yang jadi masalah adalah menghilangkan metode usang cara usaha asongan dan tetap menjadi dirinya sendiri yang menikmati dunia bebas merdeka, tetapi ta’at dengan aturan umum sebagai landasan usaha bersama, sikap yang jujur karena tak takut mendapat PHK, “Direkturpun akan enteng di umpatnya karena begitu bebas sebagai pribadi yang merdeka,” Dengan penuh percaya diri sebagai Intelektual nggunung dengan aliran kuper ortodok aturan UNESCO yang di sampaikan oleh PT>TWCB di anggap sebagai tukang pukul yang di tantangnya berkelahi seperti kang Narto tetangga kampungnya sesama pengasong yang menyerobot Turis yang di anggap COMBEGAN...”(bahasa trend asongan Inggris campur nggunung istilah Wisatawan Asing yang berjanji membeli sesudah naik Candi) kenaikan tiket candi yang di anggap mahal menjadi umpatan tak mengerti kalau memandang monyet di Taman Safari tiga kali lebih mahal, puji syukur kepada Tuhan kita di beri saudara yang amat lucu. ”Seorang Bupati pun tak berani sebebas kaum asongan dalam mengumpat...” Dalam jangka pendek seakan bisa di arahkan masuk dalam zona karyawan tetapi pribadi asongan sangat menikmati sebagai pribadi usaha merdeka walaupun hidup miskin, kehidupan sebagai karyawan PT TWCB tak mudah merobah sebagai pribadi merdeka masyarakat asongan.
Penataan struktural kekuatan penuh PT>TWCB dan Pemerintah lewat RT, RW, LURAH, GUBERNUR, KEPPRES, sampai Senjata UNESCO, tak mempan karena bukan titik lemahnya, mustinya pendekatan dan mengarahkan dengan rumus sebagai calon enterpreneur dan pengusaha moderen standar profesional yang merdeka menjadikan asongan sebagai pengusaha pertanian yang sukses, peternak yang handal dan pedagang yang moderen sebagai konsep pemberdayaan untuknya sebagai sesama manusia yang dengan sikap saling mencintai hilangkanlah perasaan sombong apalagi karyawan, karena asongan yang di anggap sepelepun mampu berulah yang sangat merugikan dunia pariwisata....
Penonton di luar Zona Borobudur memandang dengan geli pihak yang menyalahkan asongan sebagai biang keladi permasalahan selama ini, alasan yang akan malah menghantam ketidak mampuan pengelolaan selama ini, Harimau, Singa, Beruang, sebagai binatang yang liar dan galak menjadi binatang penurut dan mampu menjadi atraksi sirkus yang indah ketika mampu mengelola dan melatihnya, apalagi asongan sebagai manusia....”Yang merasa pintar mengatakan SDM asongan adalah rendah dan bodoh, tetapi yang merasa pintar mengatur orang bodoh saja tak mampu apalagi mengatur sesama orang pintar...” Kita adalah makhluk yang sombong dengan gampang menyalahkan manusia, Tuhan yang selalu bermurah hati walaupun kita kelewat batas. Kesemrawutan yang terjadi selama ini karena ketidak jelasan sumber penyakit.... Yang ada hanyalah tubuh terpuruk tak berdaya sakit dan tak mengerti obatnya, Program kerja dari devinisi yang tak jelas dan tidak memahami konsep hubungan lintas Quadran, tak mampu bertukar kacamata, asongan yang di paksa cara kerja Quadran karyawan, dan karyawan yang tak mampu protes seperti mendapat intruksi dari malaikat, pelaksana tugas scala unit dengan gaji rendah tetapi penuh bonus, bonus kemarahan struktural dan cacian masyarakat terutama Asongan, terjadi berpuluh tahun semua pihak seperti teradu domba.....” Menjadikan semua tersiksa.mustinya hubungan lintas quadran yang sinergis ” Quadran karyawan PT>TWCB juga jadi korban dari ketidakjelasan sumber masalah asongan menjadi hantu yang menakutkan bagi Quadran karyawan PT.TWCB. Memang tidak di pungkiri perilaku asongan membuat malu dan gatal pariwisata sangat menggelisahkan wisatawan, kalaupun di tanya cita cita “asongan mending jadi Presiden atau Artis yang kecut ketiaknya pun laku keras untuk iklan......”Asongan adalah seperti calo produk dari pengrajin sambil Ndablek(ngeyel)tinggal bagaimana merobah jadi kesan elit,” wong jadi Menteri saja memakai calo persis Asongan yang melompat pagar belakang dengan pak Satpam yang sok nggak tahu.....”Rencana menghilangkan bentuk usaha asongan dengan vulgar akan menyulut medan peperangan, perilaku sedikit memaksa bagi asongan juga sarat panjang dari sejarah keliru pengelolaan perilaku, semua harus di kaji karena menjadi watak yang tak mudah berobah. Asongan adalah pribadi yang unik bersifat sendiri cenderung egois, walaupun jumlahnya banyak tetapi ego pribadinya sangat tinggi, sulit mengatur dalam kelompok internal seperti Paguyuban, Persatuan, Koperasi dalam berbagai nama sudah di lahapnya dengan rakus puluhan tahun...” Tidak aneh untuk semua tetapi sulit mewadahi semuanya karena sifat sebagai usaha pribadi yang merdeka, yang paling membuat parah perilaku adalah areal PT>TWCB sebagai medan nikmat usaha terkadang melebihi permainan judi yang di larang, kenyataan usaha tanpa modal cukup membawa dagangan nilai kecil di jual krus nilai uang besar dari selisih kurs rupiah kepada wisatawan asing menjadikan sarat keuntungan melebihi perjudian tanpa kerugian kehilangan, itu penyakit berat yang sulit di sembuhkan tak di sadari walau hidup sangat miskin menggelapkan mata pengasong akan usaha yang lain yang lebih berpeluang membawa kesejahteraan ekonomi, ribuan orang sudah terjebak pada candu metode asong yang memabukkan, entah asongan sebagai pionir atau hanya sekedar menjiplak. Areal PT.TWCB dari kacamata Dewa judi, ibarat adu lempar dadu kaum Sudra, lempar Proposal Ksatriya, Bangsawan Brahmana yang tersenyum penuh misteri...”Ujung ujungnya kepentingan dangkal.....” Melupakan Relief candi yang mengajarkan kemulyaan...”Bisa jadi mengulang sejarah lama umat sehingga Dewa memendam candi Borobudur ratusan tahun...” Seperti kaum Nabi Nuh yang di tenggelamkan, umat Nabi Lut yang di pendam hujan Batu...”Wallohu A’llam bissowab” tak perlu menyayat luka lagi dengan sikap menyalahkan, menyadari akan permasalahan sebenarnya dan menjadikan data awal untuk membuat perobahan kearah lebih baik bersama sama bertobat pada Tuhan, karena kesalahan yang sesungguhnya adalah sikap sombong kita dan ego kerdil sikap kita....Perlunya data yang jelas dari setiap lini pedagang mulai dari penghasilan pokok dan sampingan, data jelas dari geografis perilaku musim tanam petani, karena musim santai bercocok tanam akan menjadi lahan musiman pedagang TWCB semua terkait dengan perilaku, statistik ekonomi yang jelas, data yang tegas menjadikan program penanganan yang lebih mudah, tak ada yang sempurna kecuali bersama sama untuk Borobudur yang kita cintai, tanggung jawab kita melindungi dan mengawal asongan menuju martabat lebih baik, butuh penataan asongan yang arif dengan metode yang berbeda, semoga membangun kebanggaan kultural dengan obyek wisata Islam dan peran ulama bisa menjadi jendela perobahan karakter asongan dan sedikit menjawab permasalahan di Borobudur. Butuh pribadi spesial untuk menata Borobudur, karakter yang mampu memahami sejarah dari konsep nenek moyang mampu memandang dari kacamata Dewa dengan kecerdasan spiritual yang tinggi dan penuh nurani, Zona spiritual tinggi dengan tata lingkungan yang sinergi sehingga tak muncul karma, tidak cukup keahlian intelektual sebatas legalitas manusia di butuhkan karakter manusia yang memahami sejarah historis lingkungan, kondisi pribadi dan karakter masyarakat termasuk memahami asongan dan sejarahnya, data masyarakat yang jelas dan potensinya, sehingga mampu merencanakan konsep pengembangan dan pemberdayaan yang tepat , butuh manajemen perusahaan yang handal yang mampu membawa perusahaan yang mampu membawa kesejahteraan bersama, karakter yang luwes mewadahi kepentinggan pemerintah dan pihak pihak yang latar belakang berbeda, sinergis semua di untungkan, tata ruang dan konsep yang jelas tak meninggalkan karakter budaya masyarakat mengarah GO scala Internasional yang bisa menjadi kebanggaan bersama “ Cukup sudah alasan perdebatan dan mencari alasan mengenai masalah asongan nanti Mbah Guna Dharma marah...”Ojo selak kemlinthi yo....Ngolai uler cilik cilik wae angel tho....?”Opo meneh nggawe candi Borobudur....”Tetapi sambil berbisik Embah bilang....”Asongan adalah makhluq yang sengaja di ciptakan Dewa dalam bentuk ulat yang gatal berumur 35 tahun dia akan berevolosi menjadi kepompong yang aman yang akhirnya menjadi kupu yang indah berwarna warni di taman bunga melengkapi candi sebagai bidadari yang tersenyum manis..”Berprasangka baiklah sifat rakus ulat yang tidak mengerti aturan dengan melahap semua daun dan ranting pariwisata adalah bentuk alamiah menuju kepompong sekarang ini.” Tuhan mengabulkan do’a kita untuk mendapatkan kupu kupu yang warna warni di taman tetapi ketahuilah bahwa : “kupu kupu yang kita minta masih berwujud ulat gatal yang menakutkan...”Masih satu pekerjaan kita mengawal dengan cermat ulat yang akan berobah menjadi kepompong dengan halus tanpa mengagetkanya burung burung yang suka usil mengganggunya, bertapa sebagai kepompong merobah negativ alamiah cosmis masa lalu menuju kelahiran baru sebagai kupu kupu yang membius setiap mata yang memandang melupakan sejarah ulat yang sangat menakutkan :Yang pantas kita renungkan “Kupu kupu yang sangat indah berawal dari ulat yang gatal dan sangat menakutkan...........” Puji syukur kepada Tuhan kita sudah mempunyai banyak ulat ulat yang amat lucu........”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar